Cara Membuat Email Marketing di WordPress dengan Plugin Mailchimp

Plugin Mailchimp for WordPress, adalah alat tambahan yang membantu pemilik website mengelola dan memanfaatkan daftar email pengunjung. Plugin ini memungkinkan website tidak hanya berfungsi sebagai media informasi, tetapi juga sebagai sarana membangun hubungan jangka panjang dengan audiens melalui email domain. Dengan integrasi ke layanan email marketing, proses pengumpulan dan pengiriman email bisa dilakukan secara lebih terstruktur.

Secara umum, plugin ini digunakan untuk mengumpulkan alamat email melalui berbagai metode, misalnya formulir berlangganan atau penawaran tertentu. Data yang terkumpul kemudian dapat dimanfaatkan untuk mengirimkan newsletter, promosi, atau informasi terbaru kepada subscriber. Dengan cara ini, pemilik website bisa tetap terhubung dengan pengunjung meskipun mereka sudah tidak lagi berada di website.

Kenapa Email Marketing Masih Efektif di Tengah Media Sosial?

Banyak pemilik website mulai bertanya-tanya, apakah strategi lama seperti email masih relevan ketika media sosial terlihat jauh lebih ramai dan cepat. Sekilas memang terlihat kalah populer, tapi kalau dilihat dari cara orang berinteraksi dan mengambil keputusan, justru pendekatan ini punya keunggulan yang tidak dimiliki platform lain.

Di bawah ini beberapa alasan yang bisa kamu pahami:

1. Akses Langsung Tanpa Perantara Algoritma

Salah satu kendala terbesar di media sosial adalah algoritma. Tidak semua konten yang kamu buat akan sampai ke audiens, bahkan ke orang yang sudah mengikuti akunmu.

Berbeda dengan itu, pesan yang dikirim akan langsung masuk ke kotak masuk penerima. Tidak ada sistem yang secara drastis membatasi jangkauan seperti di media sosial.

Gambaran: Bayangkan kamu punya toko roti kecil dengan pelanggan tetap. Kamu mengirim pesan langsung ke mereka tentang roti baru yang baru saja keluar dari oven. Informasi itu sampai tanpa gangguan. Bandingkan jika kamu hanya menempelkan pengumuman di tempat umum—tidak semua orang akan melihatnya.


2. Kepemilikan Audiens yang Lebih Aman

Di media sosial, kamu sebenarnya “meminjam” platform orang lain. Akun bisa saja terkena pembatasan, bahkan hilang tanpa peringatan jelas.

Dengan memiliki daftar kontak sendiri, kamu tidak bergantung sepenuhnya pada platform tertentu. Ini adalah aset jangka panjang.

Gambaran lanjutan: Pemilik toko roti tadi menyimpan daftar pelanggan di buku sendiri. Jadi meskipun lokasi tokonya pindah atau papan pengumuman hilang, dia tetap bisa menghubungi pelanggan kapan saja.


3. Komunikasi yang Lebih Personal

Pesan yang diterima secara langsung terasa lebih pribadi dibandingkan postingan umum. Orang cenderung lebih memperhatikan sesuatu yang terasa ditujukan khusus untuk mereka.

Ini membuka peluang untuk membangun hubungan yang lebih dekat.

Gambaran lanjutan: Alih-alih hanya mengumumkan produk baru, pemilik toko roti menulis pesan seperti, “Roti cokelat yang Anda beli minggu lalu sudah tersedia lagi pagi ini.” Pendekatan seperti ini membuat pelanggan merasa dihargai.


4. Tingkat Perhatian yang Lebih Tinggi

Di media sosial, orang sering hanya melihat sekilas lalu lanjut scroll. Sangat jarang mereka benar-benar berhenti untuk membaca secara mendalam.

Sebaliknya, ketika seseorang membuka pesan di kotak masuknya, biasanya mereka sudah dalam kondisi lebih fokus.

Gambaran lanjutan: Pelanggan yang menerima pesan tentang roti favoritnya akan membaca dengan lebih serius dibandingkan hanya melihat poster sambil lewat di jalan.


5. Lebih Efektif untuk Membangun Hubungan Jangka Panjang

Media sosial cenderung cepat dan instan. Interaksi hari ini bisa hilang besok karena tertutup konten lain.

Pendekatan ini memungkinkan kamu membangun hubungan secara bertahap dan konsisten.

Gambaran lanjutan: Pemilik toko roti tidak hanya mengirim satu pesan, tapi terus berkomunikasi secara berkala—memberi tahu promo, cerita di balik pembuatan roti, hingga rekomendasi menu. Lama-kelamaan, pelanggan merasa punya kedekatan.


6. Potensi Konversi yang Lebih Tinggi

Tujuan akhir dari banyak strategi adalah tindakan nyata, seperti membeli atau menggunakan layanan. Dibandingkan media sosial, pendekatan ini sering kali menghasilkan konversi yang lebih tinggi karena sifatnya lebih personal dan langsung.

Gambaran lanjutan: Ketika pelanggan menerima pesan seperti, “Hari ini ada diskon khusus untuk pelanggan tetap,” mereka lebih terdorong untuk datang kembali dibanding hanya melihat postingan umum yang juga dilihat banyak orang.


7. Tidak Mudah Tenggelam oleh Kompetitor

Di media sosial, kamu bersaing dengan banyak konten sekaligus. Bahkan dalam hitungan detik, kontenmu bisa langsung tergeser.

Pesan yang dikirim langsung tidak secepat itu hilang, karena tersimpan di kotak masuk penerima.

Gambaran lanjutan: Poster di jalan bisa tertutup oleh poster lain dalam sehari. Tapi pesan yang diterima pelanggan tetap ada sampai mereka membukanya atau menghapusnya.


8. Fleksibel untuk Berbagai Tujuan

Pendekatan ini tidak hanya untuk promosi. Kamu bisa menggunakannya untuk edukasi, membangun kepercayaan, hingga menjaga hubungan dengan audiens.

Gambaran lanjutan: Pemilik toko roti tidak hanya mengirim promo, tapi juga berbagi cerita seperti bagaimana bahan dipilih atau tips menyimpan roti agar tetap enak. Ini membuat pelanggan merasa lebih terhubung.


9. Lebih Mudah Mengukur Respons Audiens

Dibandingkan media sosial yang kadang sulit dipahami pergerakannya karena algoritma, respons dari pendekatan ini lebih mudah dilihat secara langsung.

Kamu bisa mengetahui apakah pesanmu menarik perhatian atau tidak, lalu menyesuaikan strategi.

Gambaran lanjutan: Pemilik toko roti bisa melihat berapa banyak pelanggan yang merespons pesan atau datang setelah menerima informasi. Dari situ, dia tahu pendekatan mana yang paling efektif.


10. Cocok Dikombinasikan dengan Media Sosial

Ini bukan soal memilih salah satu. Justru hasil terbaik biasanya datang dari kombinasi keduanya.

Media sosial bisa digunakan untuk menjangkau orang baru, sementara pendekatan ini digunakan untuk menjaga hubungan yang sudah ada.

Gambaran lanjutan (penutup): Pemilik toko roti tetap memasang pengumuman di tempat umum untuk menarik pelanggan baru. Tapi untuk pelanggan lama, dia tetap mengandalkan komunikasi langsung agar hubungan tetap terjaga.


Pada akhirnya, meskipun media sosial terlihat lebih ramai, pendekatan ini tetap punya tempat yang kuat karena sifatnya yang lebih personal, stabil, dan terarah. Jika dimanfaatkan dengan benar, hasilnya justru bisa lebih konsisten dalam jangka panjang.

Cara Menentukan Target Audience dalam Email Marketing agar Hasilnya Lebih Memuaskan.

Menentukan target audience bukan sekadar menebak siapa yang mungkin tertarik, tapi memahami siapa yang paling relevan dengan pesan yang kamu kirim. Ketika targetnya tepat, isi pesan terasa lebih personal, lebih nyambung, dan peluang mendapatkan respons juga jauh lebih tinggi.

Di bawah ini adalah langkah-langkah yang bisa kamu ikuti:

1. Memahami Tujuan Utama yang Ingin Dicapai

Sebelum menentukan siapa targetnya, kamu perlu jelas dulu apa yang ingin dicapai. Tanpa tujuan yang jelas, kamu akan kesulitan menentukan arah.

Apakah kamu ingin meningkatkan penjualan, membangun hubungan, atau sekadar menjaga komunikasi tetap aktif? Tujuan ini akan mempengaruhi siapa yang harus kamu sasar.

Gambaran contoh: Bayangkan kamu punya usaha katering rumahan. Tujuanmu adalah meningkatkan jumlah pesanan harian. Maka target yang paling masuk akal adalah orang-orang yang butuh makanan praktis, seperti karyawan sibuk atau keluarga yang tidak sempat memasak. Dari sini kamu mulai menyaring siapa yang relevan.


2. Mengidentifikasi Siapa yang Paling Membutuhkan

Setelah tahu tujuan, langkah berikutnya adalah mencari siapa yang benar-benar membutuhkan apa yang kamu tawarkan. Tidak semua orang adalah calon yang tepat. Semakin spesifik kamu memilih, semakin mudah pesanmu diterima.

Gambaran contoh (lanjutan): Dari usaha katering tadi, kamu mulai melihat bahwa targetnya bukan semua orang yang lapar, tapi lebih spesifik: pekerja kantoran yang pulang malam dan tidak punya waktu memasak. Ini membuat arah komunikasimu jadi lebih jelas.


3. Memahami Masalah yang Mereka Hadapi

Target audience bukan hanya soal siapa mereka, tapi juga masalah apa yang mereka alami. Jika kamu memahami masalahnya, kamu bisa menyusun pesan yang terasa “kena banget”.

Gambaran contoh (lanjutan): Karyawan tadi mungkin sering merasa capek, tidak sempat belanja bahan makanan, dan akhirnya sering makan tidak teratur. Masalah utamanya bukan sekadar lapar, tapi tidak punya waktu dan energi untuk memasak.

Dari sini, kamu bisa mulai memahami sudut komunikasi yang lebih tepat.


4. Mengetahui Kebiasaan dan Pola Perilaku

Selain masalah, kamu juga perlu tahu kebiasaan mereka. Kapan mereka aktif, apa yang mereka sukai, dan bagaimana mereka biasanya mengambil keputusan.

Ini penting supaya pesan yang kamu kirim tidak terasa mengganggu.

Gambaran contoh (lanjutan): Karyawan tersebut kemungkinan besar baru santai di malam hari setelah pulang kerja. Jadi, waktu yang lebih cocok untuk menyampaikan pesan adalah malam hari, bukan pagi saat mereka sedang sibuk.


5. Mengelompokkan Berdasarkan Karakteristik

Tidak semua orang dalam target yang sama itu identik. Karena itu, kamu perlu mulai mengelompokkan mereka.

Pengelompokan bisa berdasarkan:

  • Usia
  • Pekerjaan
  • Gaya hidup
  • Kebutuhan spesifik

Gambaran contoh (lanjutan): Dalam kasus katering, kamu mungkin menemukan dua kelompok:

  • Karyawan single yang butuh porsi kecil
  • Keluarga kecil yang butuh porsi lebih besar

Walaupun sama-sama sibuk, kebutuhan mereka berbeda. Jadi pendekatannya juga tidak bisa disamakan.


6. Menentukan Gaya Komunikasi yang Tepat

Setelah tahu siapa targetnya, kamu perlu menyesuaikan cara berbicara. Bahasa yang kamu gunakan harus sesuai dengan karakter mereka. Terlalu formal bisa terasa kaku, terlalu santai juga bisa kurang dipercaya.

Gambaran contoh (lanjutan): Untuk karyawan muda, gaya bahasa yang santai dan ringan mungkin lebih cocok. Misalnya menggunakan kalimat seperti “Tidak sempat masak setelah pulang kerja?” dibandingkan bahasa yang terlalu formal.


7. Menguji dan Melihat Respons

Menentukan target bukan pekerjaan sekali jadi. Kamu perlu melihat bagaimana respons mereka terhadap pesan yang kamu kirim. Dari situ, kamu bisa tahu apakah sudah tepat atau perlu disesuaikan lagi.

Gambaran contoh (lanjutan): Jika ternyata banyak respon datang dari keluarga dibanding karyawan single, mungkin kamu perlu menyesuaikan fokus. Bisa jadi selama ini kebutuhan keluarga lebih besar dan lebih potensial.


8. Menyesuaikan Secara Berkala

Target audience bisa berubah seiring waktu. Kebutuhan, kebiasaan, bahkan situasi hidup mereka bisa berbeda. Karena itu, penting untuk terus menyesuaikan pendekatan.

Gambaran contoh (lanjutan): Awalnya kamu fokus ke karyawan, tapi seiring waktu kamu melihat banyak pelanggan tetap berasal dari keluarga kecil. Akhirnya kamu mulai menyesuaikan menu, porsi, dan cara komunikasi agar lebih relevan dengan mereka.


Penutup

Menentukan target audience bukan tentang mencari sebanyak mungkin orang, tapi memilih orang yang paling tepat. Semakin jelas kamu mengenali mereka, semakin mudah menyusun pesan yang relevan dan terasa personal.

Dengan mengikuti langkah-langkah di atas secara runtut, kamu tidak hanya sekadar mengirim pesan, tapi benar-benar membangun komunikasi yang punya arah dan tujuan.

Strategi Email Marketing untuk Meningkatkan Engagement.

Engagement bukan sekadar angka seperti open rate atau klik. Lebih dari itu, engagement menunjukkan apakah orang benar-benar tertarik, merasa terhubung, dan mau berinteraksi dengan pesan yang kamu kirim. Kalau engagement rendah, biasanya masalahnya bukan di tools, tapi di pendekatan.

Di bawah ini adalah strategi yang bisa kamu terapkan untuk meningkatkan keterlibatan secara alami. Setiap poin saling berhubungan supaya kamu bisa melihat bagaimana satu strategi mendukung strategi lainnya.


1. Memahami Kenapa Orang Mau Membuka dan Membaca

Sebelum berbicara soal strategi, kamu perlu memahami satu hal sederhana: orang hanya akan membuka sesuatu yang terasa relevan atau menarik bagi mereka. Kalau pesan terasa umum atau terlalu “jualan”, biasanya langsung diabaikan.

Bayangkan kamu punya usaha katering rumahan yang sebelumnya sudah kamu tentukan targetnya adalah karyawan sibuk. Kalau kamu mengirim pesan seperti “Promo menu hari ini tersedia”, itu terasa biasa saja. Tapi kalau kamu menyesuaikan dengan kondisi mereka, misalnya “Pulang kerja capek, tapi tetap ingin makan enak tanpa repot?”, itu jauh lebih mengena.


2. Membuat Judul yang Memancing Rasa Penasaran

Judul adalah pintu pertama. Kalau tidak menarik, isi sebaik apa pun tidak akan dibaca. Fokusnya bukan clickbait, tapi membuat orang merasa “ini kayaknya relevan buat saya”.

Gambaran contoh (lanjutan): Alih-alih menulis “Menu katering terbaru”, kamu bisa menggunakan pendekatan seperti “Solusi makan malam praktis tanpa harus keluar rumah”. Judul ini lebih menggambarkan manfaat daripada sekadar informasi.


3. Menyampaikan Pesan yang Terasa Personal

Pesan yang terasa umum sering kali diabaikan. Sebaliknya, pesan yang terasa personal membuat pembaca merasa diperhatikan. Kamu tidak harus menyebut nama, tapi gaya komunikasinya harus terasa seperti berbicara langsung.

Gambaran contoh (lanjutan): Daripada menulis seperti pengumuman, coba gunakan gaya percakapan: “Kamu pasti pernah merasa malas masak setelah hari yang panjang, kan?” Kalimat seperti ini terasa lebih dekat dan relatable.


4. Memberikan Nilai, Bukan Sekadar Promosi

Kalau setiap pesan hanya berisi penawaran, orang akan cepat bosan. Mereka butuh alasan untuk tetap tertarik. Nilai ini bisa berupa tips, insight, atau bahkan hal sederhana yang bermanfaat.

Gambaran contoh (lanjutan): Selain menawarkan menu, kamu bisa menyisipkan tips seperti “Cara menjaga pola makan tetap teratur meskipun jadwal padat”. Ini membuat pesanmu tidak hanya tentang jualan, tapi juga membantu.


5. Menjaga Konsistensi Tanpa Berlebihan

Terlalu jarang mengirim pesan membuat orang lupa. Terlalu sering justru membuat mereka terganggu. Kuncinya adalah konsisten dengan frekuensi yang wajar.

Gambaran contoh (lanjutan): Untuk usaha katering, mungkin cukup mengirim 2–3 kali dalam seminggu. Misalnya di hari kerja ketika orang mulai memikirkan makan siang atau malam.


6. Mengajak Interaksi, Bukan Hanya Memberi Informasi

Engagement akan meningkat kalau kamu memberi ruang bagi pembaca untuk merespons. Jangan hanya satu arah.

Gambaran contoh (lanjutan): Kamu bisa menutup pesan dengan pertanyaan seperti, “Lebih suka menu pedas atau yang ringan?” Hal sederhana ini bisa memancing respon dan membuat komunikasi terasa hidup.


7. Menyesuaikan Isi dengan Kebutuhan yang Berbeda

Tidak semua orang punya kebutuhan yang sama, meskipun berada dalam satu kelompok. Menyesuaikan isi pesan dengan kebutuhan mereka akan membuat pesan lebih relevan.

Gambaran contoh (lanjutan): Untuk karyawan single, kamu bisa fokus pada porsi praktis. Sedangkan untuk keluarga kecil, kamu bisa menonjolkan paket hemat. Dengan begitu, setiap orang merasa pesan itu memang ditujukan untuk mereka.


8. Mengevaluasi dan Menyesuaikan Strategi

Strategi yang baik tetap perlu dievaluasi. Dari situ kamu bisa tahu apa yang berhasil dan apa yang perlu diperbaiki.

Perhatikan bagaimana respons yang masuk, bukan hanya angka, tapi juga pola.

Gambaran contoh (lanjutan): Jika ternyata pesan yang berisi tips mendapatkan lebih banyak respon dibanding promosi, itu berarti audiensmu lebih tertarik pada konten yang memberi nilai. Kamu bisa menyesuaikan pendekatan ke depannya.


Penutup

Meningkatkan engagement bukan soal trik instan, tapi tentang memahami siapa yang kamu ajak bicara dan bagaimana cara berkomunikasi yang tepat. Ketika pesan terasa relevan, personal, dan bermanfaat, orang tidak hanya membaca—mereka akan menunggu pesan berikutnya.

Cara Mudah Membuat Email Marketing di WordPress lengkap dengan gambarnya.

1. Instal Plugin Mailchimp.

Langkah pertama pastinya kita perlu mengaktifkan plugin yang dibutuhkan. Adapun tampilannya sebagai berikut:

Mailchimp

2. Menghubungkan Api Key.

Agar plugin bisa berfungsi, maka kita perlu membuat api key dan kemudian menghubungkannya ke plugin. Dan untuk caranya cukup klik pada bagian “Get your API key here.” Perhatikan gambar berikut:

Get your API key here.

3. Membuat Formulir Pendaftaran.

Langkah yang terakhir silahkan buat formulir untuk pengunjung website supaya bisa mendaftar email marketing. Caranya cukup klik tombol “Add New Form”. Coba lihat gambar berikut:

Add new Form

Cukup sekian dan terimakasih.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *